Ajari Anakmu Sebelum Jalanan yang Mengajarinya

#lektur ✍️ Posted by Fastman
Ilustrasi seorang ayah bermain dengan anak
Ajari anakmu sebelum jalanan yang mengajarinya — refleksi dari video viral bahwa pendidikan sejati dimulai dari rumah, bukan dari kerasnya dunia luar.

Beberapa waktu lalu, saya lagi scroll Facebook dan ketemu video yang bikin saya berhenti sebentar.
Isinya, anak kecil—kayaknya masih belasan tahun—nggak sopan sama orang di jalan. Dari cara ngomong sampai sikapnya, jelas banget bikin emosi. Akhirnya orang yang diganggu itu kehilangan sabar dan memukuli si anak.

Di kolom komentar, ada satu kalimat yang nyangkut di kepala saya:

“Ajari anakmu sebelum jalanan yang mengajarinya.”

Kalimat itu sederhana, tapi pas banget jadi kunci dari kasus yang saya lihat. Bukan sekadar nasehat, tapi peringatan.


Dari Video ke Refleksi

Saya pribadi belum berkeluarga, belum punya anak. Tapi melihat video itu bikin saya mikir: kenapa anak bisa tumbuh sampai berani nggak sopan sama orang asing di jalan? Apakah dia kurang diajari sopan santun? Apakah keluarganya nggak hadir buat mendampingi? Atau memang lingkungan yang bikin begitu?

Di sini, komentar tadi berfungsi seperti kaca: kalau anak nggak dididik dari rumah, maka “jalanan” akan ngasih pelajaran dengan caranya sendiri. Dan sering kali, caranya keras.


Jalanan Sebagai Guru yang Keras

Jalanan Fisik

Dalam kasus video tadi, jalanan hadir dalam bentuk orang asing yang tersinggung lalu main tangan. Itu contoh nyata gimana anak belajar lewat kekerasan—cara yang menyakitkan, tapi kadang jadi realita.
Data Komnas PA (2023) menunjukkan sekitar 1 dari 10 kasus kenakalan remaja di Indonesia berkaitan dengan perilaku di jalan: tawuran, bentrok, dan aksi gangguan di ruang publik. Artinya, risiko ini nyata.

Jalanan Digital

Kalau kita geser konteks, “jalanan” nggak melulu trotoar. Bisa juga media sosial. Banyak anak belajar perilaku dari YouTube, TikTok, atau game online.
Menurut APJII (2024), 83% remaja Indonesia aktif di medsos tiap hari. Jadi wajar kalau mereka lebih sering belajar “norma” dari layar, bukan dari rumah.


Kenapa Anak Bisa Sampai Begitu?

Kurang Didampingi

Kadang orang tua sibuk kerja, capek, atau nggak punya waktu buat ngobrol. Anak pun cari perhatian di luar.
Kalau kebetulan lingkungannya negatif, hasilnya bisa seperti di video tadi.

Tidak Ada Teladan

Anak lebih jago meniru daripada mendengar. Kalau orang dewasa di rumah sering kasar, anak akan menganggap itu hal normal.

Kurangnya Kontrol Sosial

Lingkungan sekitar—tetangga, sekolah, bahkan kita sebagai masyarakat—kadang cuek. Kita baru bereaksi ketika sudah ada masalah besar.


Pelajaran yang Bisa Kita Ambil

Kalimat tadi jadi pengingat buat kita semua: lebih baik anak belajar dari kasih sayang dan bimbingan orang terdekat, daripada harus belajar lewat kekerasan di jalan.

Bahkan buat saya yang belum punya anak, kalimat ini tetap relevan. Kita semua punya peran: sebagai kakak, tetangga, guru, atau sekadar orang dewasa yang ketemu anak-anak di jalan. Sopan santun dan empati bukan cuma tugas orang tua, tapi juga tugas kita sebagai masyarakat.


Penutup

Video di Facebook itu mungkin cuma sekilas hiburan buat sebagian orang, tapi buat saya jadi bahan refleksi panjang.
Kalimat di komentar itu sederhana, tapi mengandung pesan penting:

“Ajari anakmu sebelum jalanan yang mengajarinya.”

Kalau rumah gagal jadi sekolah pertama, maka jalanan—dengan segala kerasnya—akan ngambil alih. Pertanyaannya tinggal: kita mau anak belajar dengan kasih sayang, atau lewat luka?

Komentar